Rabu, 23 September 2015

Qurban: Aspek Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat Veteriner



Qurban: Aspek Ekonomi dan Kesehatan
Masyarakat Veteriner

Oleh : Drh. Jafrizal, MM*


         
Tidak terasa sebentar lagi kita umat muslim akan merayakan Idul Adha, sebuah ritual sakral bagi umat muslim yang merepresentasikan kesadaran sejarah akan keimanan kepada Allah SWT dan merupakan momen sejarah keyakinan tentang ketauhidan  yang dilakukan oleh nabi Ibrahim AS. Pada hari tersebut, ibadah yang paling utama adalah menyembelih hewan kurban seperti kambing, sapi, unta, domba, yang akan disembelih dan sebagian kecil boleh dikonsumsi orang yang berkurban serta dapat dibagikan untuk keluarga, tetangga walaupun dalam kondisi ekonomi berpunya dan sebagian besar didistribusikan untuk orang-orang fakir dan miskin. Hal ini merupakan implementasi hubungan pendekatan baik kepada pencipta maupun sesama umat manusia. 
 Di dalam Al-Qur’an maupun hadits,  nilai-nilai sosial-kemanusiaan tersebut tidak dapat kita pisahkan dengan nilai-nilai ekonomi bagai mana pendistribusian rejeki bagi masyarakat yang kurang mampu dapat menikmati daging yang secara ekonomi hanya dapat dikonsusmsi oleh masyarakat yang mampu. Oleh sebab itu, tujuan ibadah qurban (juga ibadah lainnya) bukan hanya untuk mencapai kemaslahatan ukhrowi, tapi juga bertujuan bagi kemaslahatan duniawi, karena setiap pensyari’atan dalam Islam, terkandung tujuan syari’at (yang disebut oleh para ulama dengan maqoshidus syari’ah), yaitu tercapainya kemaslahatan dunia dan akhirat.

Aspek Ekonomis
Apa yang dapat kita lakukan dengan ketentuan ibadah qurban ini dalam  aspek ekonomi? Dengan kondisi krisis ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi diberbagai sektor yang berlangsung saat ini, volume qurban tetap saja tinggi. Hal ini sangat berhubungan dengan kesadaran atas ketauhidan untuk mendapatkan ridho Ilahi dengan pemotongan hewan qurban yang dilakukan bagi seorang muslim yang mampu, tentu saja akan meningkatkan volume ekonomi domestik. Apalagi Indonesia memiliki populasi muslim yang terbesar di dunia, bermakna qurban memiliki potensi yang baik dalam menjaga perekonomian domestik, khususnya dalam kondisi krisis keuangan saat ini.
Dengan ibadah Qurban, merupakan instrumen yang mampu menggairahkan pasar dimana terjadi pergeseran equilibrium pasar karena meningkatnya permintaan terhadap hewan qurban (demand).  Peningkatan permintaan (demand) terhadap hewan qurban oleh masyarakat yang berkemampuan untuk berqurban, akan memelihara penawaran (supply) dari petani peternak atau  pedagang dalam penyediaan hewan qurban tersebut. Artinya keberadaan qurban memastikan bahwa sektor peternakan hewan qurban selalu memiliki pasarnya sendiri. Besar kecilnya tingkat demand dan supply yang menentukan volume ekonomi qurban sangat ditentukan oleh keimanan orang-orang yang mampu.
Sebagai ilustrasi, jumlah hewan ternak yang disediakan oleh pedagang di Kota Palembang tahun 2014 untuk sapi sebanyak 7531 ekor, kambing sebanyak 5750. Bila seandainya hewan qurban tersebut dianggap terjual semua maka nilai hewan qurban tersebut mencapai  117 milyar rupiah. Perputaran uang sebesar itu baru untuk Kota Palembang, sungguh merupakan  uang yang sangat besar untuk menggerakkan ekonomi  bila kita hitung secara nasional. Perputaran uang tersebut terjadi bak ditingkat petani, pedagang pengepul, pedagang antar provinsi dan pedagang tingkat kabupaten/kota serta memberikan lapangan pekerjaan bagi petugas pemotongan hewan kurban.
Tingginya kebutuhan akan hewan qurban ini seharusnya ikut menarik minat investor untuk berusaha di bidang peternakan, baik pembiakan (breeding)  maupun penggemukan (fattening). Kelangkaan daging yang harus dipenuhi dari daging impor sangat memperihatinkan di negeri yang subur dan luas ini. Pangsa pasar sapi yang sudah jelas diharapkan ke depan tumbuh pembiak-pembiak baik skala kecil, besar dan menengah yang memanfaatkan potensi lokal dengan sehingga kelangkaan sapi dan daging dapat teratasi.

Aspek Teknis Kesehatan Masyarakat Veteriner
Dari aspek teknis, syarat binatang yang akan digunakan dalam ibadah Qurban adalah : Sehat, tidak cacat, cukup umur untuk kambing/domba: umur lebih dari 1 tahun ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap, untuk sapi/kerbau: umur lebih dari 2 tahun ditandai dengan tumbuhnya dua pasang gigi tetap, tidak kurus, jenis kelamin jantan yang tidak dikastrasi/dikebiri,  testis/buah zakar masih lengkap (2 buah), bentuk dan letaknya simetris. Rasulullah SAW bersabda: “Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban: 1. Cacat matanya, 2. sakit, 3. pincang dan 4. kurus yang tidak berlemak lagi “ (HR Bukhari dan Muslim). Hadits lain: “Janganlah kamu menyembelih binatang ternak untuk qurban kecuali musinnah (telah ganti gigi, kupak). Jika sukar didapati, maka boleh jadz’ah (berumur 1 tahun lebih) dari domba.” (HR Muslim). Berdasar hadits dari Bara` bin Azid, diriwayatkan oleh Imam Malik, Akhmad, Abu Dawud, At Tarmidzi, dll. Syarat Hewan Kurban tidak diperkenankan : 1.Sembelihan pincang yang sangat tampak kepincangannya. 2.Sembelihan buta sebelah matanya yang sangat nampak kebutaannya. 3.Sembelihan sakit yang sangat nampak sakitnya. 4.Sembelihan kurus yang tidak berlemak / bersumsum.
Memperhatikan syarat syah hewan qurban di atas, menucul pertanyaan, siapa yang dapat menentukan hewan tersebut sehat, sakit, pincang dan cukup umur untuk dijadikan hewan kurban? Apakah sehat dan sakit ditentukan oleh panitia kurban, penjual hewan kurban? Disaat seperti inilah diharapkan peran pemerintah, Majelis Ulama  dan oraganisasi profesi seperti Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Ikatan Insinyur Peternakan Indonesia dapat berperan agar memberikan rasa nyaman bagi masyarakat yang berkorban  terpenuhi syarat-syarat syah hewan kurban dan masyarakat yang mengkonsumsi hewan kurban terpenuhi aspek kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) untuk memastikan hewan sehat dan bebas penyakit menular dari hewan ke Manusia (zoonosis). Dari aspek kesmavet ini terkait dengan kajian medik  veteriner (kedokteran hewan) mengingat daging hewan nantinya akan dikonsumsi oleh masyarakat. Subhanallah, ajaran  Islam telah lebih dulu mengenalkan prinsif-prinsif kesemavet sebelumnya, padahal pada masa itu belum ada seorang dokter hewan atau ahli kesmavet,  ajaran ini benar-benar merupakan rahmatalil ‘alamin.
Persyaratan kesehatan hewan  qurban di atas, ditintaju dari Kesehatan Masyarakat veteriner, merupakan upaya pencegahan zoonosis. Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Ada banyak penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit zoonosis ini yang perlu menjadi perhatian pada saat penyembelihan hewan kurban. Berikut  sedikit tanda-tanda atau gejala beberapa penyakit zoonosis yang lazim ditemukan pada ternak kambing, domba dan sapi yang sering kita dengar yaitu Anthrax, penyebab penyakit ini adalah bakteri Bacillus anthracis, gejala hewan terserang: Demam tinggi, nafsu makan hilang, gemetaran, nafas ngos-ngosan, bengkak-bengkak, keluar darah dari lubang-lubang alami (telinga, hidung, mulut, anus & kemaluan) kemudian diikuti kematian, organ limpa membengkak dan berwarna gelap, penularannya  melalui makanan (mulut), pernafasan dan kontak kulit; 2. Brucellosis (Keluron menular), penyebab brucellosis adalah bakteri Brucella abortus, gejala hewan terserang: Peradangan testis (buah pelir) pada hewan jantan, penularannya melalui saluran makanan, kelamin, selaput lendir dan luka oleh air kencing dan daging hewan penderita; 3. Leptospirosis, penyebab penyakit ini adalah bakteri Leptospira sp, gejala hewan terserang: demam, nafsu makan turun, sesak nafas, loyo, selaput lendir kekuningan (icterus), air kencing lebih pekat dan berwarna kuning, ginjal membengkak dan berwarna gelap;  4. Salmonellosis (diare menular), penyebab salmonellosis adalah bakteri Salmonella sp., Gejala hewan terserang adalah diare disertai lendir, kadang berdarah, penularannyamelului makan daging hewan yang tercenar, juga kotoran penderita yang mencemari makanan, minuman dan alat-alat; 5. Tuberculosis Penyebab penyakit yang dikenal dengan Tbc ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculosi,  gejala hewan terserang: tidak terlalu jelas. Kadang batuk yang tidak sembuh-sembuh. Paru-paru terdapat benjolan-benjolan putih (tuberkel): 6. ORF Penyebab penyakit ini adalah virus parapox Hewan terserang : kambing dan domba,  gejala: peradangan pada kulit, kemudian melepuh dan terbentuk keropeng. Bagian yang sering dijumpai adanya keropeng yaitu kulit yang jarang ditumbuhi bulu misalnya sekitar mulut, mata, alat kelamin dan ambing. Penularan : kontak langsung dengan bahan-bahan yang mengandung virus tersebut.
Selain yang disebabkan oleh virus di atas ada juga yang disebabkan oleh parasit, protozoa dan jamur yakni: Sistiserkosis (Cacing Pita), penyebab penyakit cacingan ini adalah cacing pita Taenia saginata. Hewan terserang : Sapi & kerbau. Penularan : makanan yang tercemar telur cacing pita dari kotoran manusia penderita (cacing pita dewasa hanya hidup di saluran pencernaan manusia). Gejala penyakit: tidak menunjukkan gejala nyata. Terdapat gelembung-gelembung seperti butiran beras pada beberapa bagian daging atau organ dalam; Toxoplasmosis, penyebab toxoplasmosis adalah protozoa (protista) bersel tunggal Toxoplasma gondii.Hewan terserang : Sapi, kambing, domba, kerbau, babi, unggas, anjing, kucing, gejala : Tidak ada gejala yang nyata. Apabila kista berada di otak akan menunjukkan gejala epilepsi. Kista yang berada di retina maka penderita akan mengalami kebutaan. Penularan : melalui salauran pencernaan lewat makanan (daging, buah, sayuran), minuman, tangan dan alat yang tercemar telur toxoplasma maupun kistanya. Toxoplasma hanya berkembang biak didalam seluran pencernaan kucing penderita;  Scabies, gejala penyakit: peradangan dan gatal-gatal pada kulit sekitar mulut, mata, telinga, kaki dan ekor, diikuti kerontokan bulu dan penyebaran ke bagian kulit lainnya. Penularannya melalui kontak langsung dengan penderita; Ringworm,  gejala penyakit: bercak-bercak merah, bernanah, bulu rontok terutama kulit bagian muka, leher dan punggung.
Aspek kesehatan masyarakat veteriner juga berhubungan dengan bagaimana kualitas daging yang dihasilkan dari pemotongan hewan kurban. Penanganan hewan sebelum dipotong sangat mempengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Hewan diperlakukan kasar dan stress sebelum dipotong baik ditempat penjualan maupun ditempat peristirahatan akan menghasilkan kualitas daging yang rendah, daging yang dihasilkan akan terlihat lebih menghitam, bila daging dimasak lebih alot, lebih mudah terjadinya pembusukan. Penanganan standar yang harus dilakukan sebelum pemotonganperlu menjadi perhatian panitia kurban antara lain: hewan diistirahatkan minimal 12 jam sebelum dipotong, perebahan hewan dengan metode barley sehingga hewan jatuh dengan tenang, pemotongan dengan pisau yang tajam, memastikan membaca niat sebelum pemotongan dan menyebut asma Allah, pastikan 4 saluran terputus saat pemotongan yakni  Hulqum (tenggorokan), Mari’ (kerongkongan), dua pasang wadaj (saluran darah arteri carotis dan vena jugularis). Tempat pemnyembelihan pada posisi bagian bawah (ventral leher) 8-10 cm dibelakang lengkung rahang. Penyembelihan dilakukan pada saat hewan mengeluarkan nafas.  Penangan daging pun harus terpisah dengan jeroan agar tidak tercampur, serta menggunakan plastik putih (bukan kresek hitam) sebagai wadah untuk daging.   
Pemotongan secara islam telah diteliti secara  ilmiah oleh dua staf ahli peternakan dan kesehatan hewan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman, yakni Prof. Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Keduanya memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?
Hasilnya sangat mengejutkan dimana pemotongan dengan menggunakan syariat islam dengan menggunakan  pisau yang  tajam untuk mengiris leher (sebagai syariat Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras) sehingga darah keluar dengan maksimal. Sebaliknya pemotongan dengan cara pemingsanan ala barat membuktikan bahwa segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik electro encephalograph (EEG). Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan), sedangkan grafik electro cardiograph (ECG) turun ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh sehingga darah tidak keluar dengan maksimal dari tubuh.
Darah yang tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, akan membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.
Mengingat ibadah kurban adalah ibadah yang sangat mulia apalagi di tengah masyarakat yang sangat membutuhkan asupan gisi/nutrisi essensial, maka kemuliaan itu akan bertambah dan menjadi syah manakala apa yang kita lakukan benar-benar memenuhi kaidah syar’i dan keilmuan (kedokteran hewan). Untuk maksud di atas maka pemeriksaan Ante mortem (sebelum di sembelih) dan pemeriksaan Post Mortem (setelah hewan disembelih) perlu dilakukan tentu saja oleh ahlinya (dokter hewan). Semoga kurbannya diterima....
    Hp 08127882877

Tidak ada komentar:

Posting Komentar