ZOONOSIS, MENGAPA DITAKUTI?
Oleh:
DR.Drh.Jafrizal, MM*
Tepat pada
tanggal 6 Juli setiap tahunnya diperingati sebagai hari Zoonosis. Mengapa harus
diperingati? Karena 135 tahun yang lalu tepatnya tanggal 6 Juli 1885 seorang
ilmuwan bernama Louis Pateur untuk pertama kalinya berhasil melakukan vaksinasi
penyakit zoonosis rabies. Dengan peringatan hari zoonosis ini paling tidak
menumbuhkan kesadaran dan kepedulian mengingat betapa banyak nyawa manusia di
dunia melayang akibat keganasan penyakit zoonosis.
Penyakit
zoonosis merupakan penyakit dari hewan yang menular kepada manusia, menjadi momok yang sangat ditakuti. Ketakutan
yang diekspresikan belum sebanding dengan usaha
pencegahan yang lakukan. Usaha yang dilakukan lebih menonjolkan segi kuratifnya
dari pada segi preventif. Pencegahan baru sebatas sosialisasi hidup sehat
dengan jargon yang salah “jangan
mendekati hewan, jangan memelihara hewan, jangan makan produk hewan”. Pencegahan
belum menyentuh upaya penyehatan hewannya agar tidak menular kepada manusia.
Menurut WHO, tidak
kurang dari 300 penyakit hewan yang
dapat menulari manusia. Dalam 20 tahun terakhir, 75 persen penyakit menular
baru yang terjadi pada manusia merupakan penyakit zoonosis. Sejarah telah
mencatat, setidaknya ada beberapa enam penyakit zoonosis (menular dari hewan ke
manusia) yang mematikan pernah terjadi di
dunia: Influenza pada tahun 1918 pada unggas telah membunuh 50 juta orang dan
2009 pada babi telah membunuh 300 ribuan orang di di 214 negara; Ebola dari
kelelawar di Afrika Barat 40 tahun lalu telah menewaskan 13 ribuan orang, Demam
berdarah dari nyamuk telah menginfeksi 390 juta orang secara global setiap
tahunnya, serta penyakit Rabies yang tak pernah tuntas di Indonesia, Leptospirosis
yang berasal dari tikus, Anthrak yang masih mewabah di Gorontalo, Covid-19 yang
disinyalir dari kelelawar serta Tuberkulosis yang masih mewabah sampai saat ini.
Penularan
Pencegahan Penyakit
Penularan penyakit dari hewan dapat
terjadi bila hewan menderita sakit. Hanya hewan yang menderita penyakit menular
yang dapat menularkan penyakit kepada manusia. Penularan dapat terjadi melalui
beberapa cara, yaitu kontak langsung dengan hewan yang menderita sakit, atau
kontak tidak langsung dengan vektor/perantara yang membawa penyakit, atau
melalui konsumsi pangan yang berasal dari hewan sakit, atau melalui aerosol di
udara ketika seseorang berada dilingkungan yang tercemar. Hewan penularnya bisa
dari satwa liar, hewan kesayangan, hewan ternak dan hewan yang berada disekitar
rumah, seperti tikus, kelelawar, serta insekta.
Melihat banyaknya hewan penular dan cara
penularannya tentu saja untuk melakukan antisipasi penularanya dibutuhkan
pemahaman yang menyeluruh tentang penyakit zoonosis satu per satu. Secara
ringkas dapat kita bagi upaya pencegahan dalam rangka antisipasi agar tidak menular
dengan langkah-langkah sebagai berikut: Memantau dengan melakukan pemeriksaa
laboratorium untuk hewan yang kemungkinan memiliki peluang lebih besar untuk
menularkan penyakit kepada manusia, melakukan vaksinasi untuk menungkatkan
imunitas dari hewan, memantau kesehatan
hewan dan tata laksana peternakan, memperketat pengawasan lalu lintas hewan, mensosialisasikan gejala klinis hewan yang
tertular penyakit zoonosis, melarang memasukkan produk hewan yang berasal dari
daerah tertular, menjaga kebersihan, melakukan biosekurity dan desinfeksi
lingkungan.
Usaha-usaha di atas merupakan upaya
untuk tetap menjaga agar produk hewan dan hewan disekitar kita agar selalu sehat. Akan tetapi, upaya
tersebut tentunya bukan hal yang gampang bila tidak didukung dengan kesepahaman
dan kemauan. Kesepahaman yang dimaksud disini adalah bahwa penyakit zoonosis
telah menjadikan kita menjadi krisis kesehatan, dengan krisis kesehatan akan
mengeluarkan banyak anggaran untuk pengobatan. Dari pada mengeluarkan banyak
anggaran untuk pengobatan maka tindakan pencegahan pada hewan penular menjadi
hal yang lebih baik dilakukan sebelum menular ke manusia. Setelah paham, maka
hal terakhir yang dibutuhkan adalah kemauan untuk melakukan upaya pencegahan
pada hewan.
Kesehatan
Hewan Diabaikan
Tak dapat
dibantah bahwa kita belum memberikan perhatian yang serius pada sumber penyebab
penyakit zoonosis yakni kesehatan hewan penular itu sendiri. Bagaimana tidak
nilai nyawa manusia lebih penting dari pada seekor kelelawar, sapi, babi dan
ayam. Bila hewan tersebut terserang sakit atau mati, tidak sedikit dari kita
yang abai dan menyepelekan dan tak sedikit yang kadang membunuh dan memakan
dagingnya. Bagaimana jikalau hewan tersebut terserang suatu penyakit yang dapat
menular ke manusia seperti anthrak,
influenza, rabies dan lain sebagainya. Hal ini akan berakibat fatal dan
membahayakan kesehatan manusia.
Jalan pintas
membunuh populasi hewan bukanlah solusi yang bijak karena hewan merupakan
bagian dari ekosistem. Salah satu hewan punah maka akan mengganggu proses dalam
ekosistem dan bisa jadi meningkatnya populasi dari hewan yang lainnya. Hal ini
yang menciptakan kondisi ketidak seimbangan dalam ekosistem. Maka salah satu
upaya yegah penyebaran penyakit menular adalah dengan melestarikan keragaman
hayati dan hewani dengan kondisi lingkungan yang sehat tidak terkecuali hewan
dalam ekositem juga harus sehat.
Program
Kolaboratif
Perlu diketahui,
konsep One Health merupakan suatu upaya kolaboratif dari berbagai
sektor, utamanya kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan,
baik di tingkat lokal, nasional, maupun global untuk mencapai kesehatan yang
optimal. Konsep One Health lebih menekankan pada pola kerjasama dan bersama
bekerja dalam bentuk kolaborasi bukan koordinasi seperti yang telah diterapkan
selama ini. Tidak seorang yang dapat membantah bahwa penyakit zoonosis dapat
dikendalikan dengan konsep one health,
akan tetapi bagaimana menerapkannya di lapangan tentu saja masih menjadi
kendala.
Dengan sistem di
Pemerintahan kita saat ini, sistem perencanaan disusun oleh dinas teknis masing-masing
maka akan sulit suatu dinas melaksanakan kegiatan kolaboratif, yang ada adalah
program yang memiliki sasaran yang berbeda walaupun sebenarnya memiliki tujuan
sama. Kondisi ini akan mengakibatkan suatu program tidak akan optimal karena
keterbatasan sumber daya dan anggaran. Berbeda halnya dengan bila dilaksnakan
secara kolaborasi, seperti misalnya pencegahan rabies di Kota Palembang, dengan
kolaborasi antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian serta Dinas Lingkungan
Hidup secara bersama menganggarkan anggaran dan sumber daya manusia tentulah akan
menjadi pekerjaan ringan. Kekurangan tenaga untuk vaksinasi hewan dan dana akan
dapat saling menutupi. Sekarang yang jadi pertanyan siapa yang akan
mengkoordinir?
Koordinator yang
tepat adalah Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah, karena sebagai badan
perencana daerah yang menyususn perencanaan daerah secara makro tentu saja program
kolaboratif atau lintas sektorall menjadi kewenangannya. Keberhasilan program
pengendalian penyakit zoonosis tidak
terlepas dari polical will dari
pimpinan daerah. Program tidak akan berhasil bila tidak di dukung oleh pimpinan
daerah dalam hal ini adalah Walikota maupun Gubernur.
Kemauan dari pimpinan daerah pun
belum cukup tanpa dukungan dari masyarakat. Tentunya perlu didukung komitmen
dari semua pihak untuk tetap menjaga agar lingkungan dan hewan sebagai
sumbernya harus tetap bersih dan sehat sehingga terhindar dari penyakit yang
akan menular kepada manusia. Manusya Mriga Satwa Sewaka.
*Ketua Perhimpunan Dokter Hewan
Indonesia Cabang Sumsel