Jumat, 27 September 2019

MENGENTASKAN KEMISKINAN DI SUMSEL: TERAPI KEDOKTERAN HEWAN DAN PETERNAKAN


Telah dipublikasi di Harian Sumatera Ekspres, Selasa 19 Februari 2019
 

KEMISKINAN DI SUMSEL:
TERAPI KEDOKTERAN HEWAN DAN PETERNAKAN

Oleh: Dr. drh. Jafrizal, MM*

Sungguh prihatin di negeri yang kaya raya dengan hasil-hasil alamnya, ternyata kemiskinan masih menjadi masalah yang belum dapat diselesaikan dan dituntaskan oleh Pemerintah. Partai-partai peserta Pemilu, calon pimpinan daerah, calon legislatif, semua menjadikan  program pengentasan kemiskinan sebagai program utama dalam platform mereka pada saat kampanye. Meskipun demikian, masalah kemiskinan  sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang  belum terselesaikan khususnya di Provinsi Sumatera Selatan.
Tingkat kemiskinan menjadi salah satu indikator keberhasilan pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Suatu daerah, jika tingkat kemiskinannya masih tinggi berarti ada yang salah dengan pemerintahnya. Sebaliknya, jika angka kemiskinanya rendah, berarti pemerintah setempat telah berhasil menjalankan roda pemerintahannya. Bagaimana denga Provinsi Sumatera Selatan?  Berdasarkan data BPS tahun  2018, Persentase penduduk miskin di Provinsi Sumatera Selatan pada angka 12.82% artinya terdapat  1 juta penduduk miskin dari total 8 juta penduduk Provinsi Sumatera Selatan. Sementara itu, persentase rata-rata kemiskinan nasional hanya 9,82 persen. Tingkat kemiskinan ini berada pada urutan 10 secara nasional dan berada pada peringkat ketiga se-Pulau Sumatera dan Jawa setelah Provinsi Lampung dan Provinsi Bengkulu.
Melihat data kemiskinan di Sumatera Selatan tersebut, muncul pertanyaan dibenak kita masing-masing; Apa sebab kemiskinan sulit dientaskan padahal program pengentasan kemiskinan selalu didengung-dengungkan? Kali ini penulis ingin membawa persoalan pengentasan kemiskinan kedalam perspektif medis veteriner (kedokteran hewan) dimana seorang dokter hewan dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami oleh hewan  dengan langkah-langkah dalam pelayanan yakni; melakukan anamnesis, pemeriksaaan fisik, pemeriklaan laboratoris sebagai penunjang, membuat diagnosa dan memutuskan tindakan terapi yang akan dilakukan kemudian.
Menganamnesa kemiskinan tentu harus menemukan kasus satu persatu dan tidak dapat digeneralisir. Kasus kemiskinan harus dapat didata/sensus perjiwa dengan lengkap,  nama, alamat, jumlah keluarga, pekerjaan,  kegemaran, keterampilan/pendidikan, harapan, serta sebelumnya program kemiskinan apa saja yang pernah diterima. Anamnesis ini penting untuk dapat dijadikan bahan untuk mengambil kebijakan program yang tepat untuk dilakukan ke depan. Untuk mendukung data analisis maka anamnesis dapat dilakukan dengan dua metode, metode langsung mendengarkan informasi kepada yang bersangkutan dan dapat melakukan dengan meminta informasi kepada orang yang berkaitan dengan yang bersangkutan. Di dalam perspektif medis,  anamnesa ini menjadi point yang sangat penting sebagai data awal untuk menghipotesis masalah yang bersangkutan, walaupun harus diklarifikasi dengan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik/klinis tentu saja menjadi penting setelah melakukan anmnesia. Periksaan fisik/klinis ini bertujuan untuk dapat menemukan penyebab dari kemiskinan yang dialami. Secara garis besarnya ada tiga faktor  penyebab kemiskinan yang menimpa masyarakat saat ini, Pertama, kemiskinan alamiah, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi alami seseorang; misalnya cacat mental, cacat fisik, usia lanjut sehingga tidak mampu bekerja, dan lain-lain. Kedua, kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM, akibat kultur kebiasaan masyarakat tertentu; misalnya sifat malas, tidak produktif, bergantung pada harta orang tua, harta warisan, berjudi, kecanduan narkoba, kebiasan menghayal tanpa kerja dan lain-lain. Faktor penyebab kemiskinan pertama dan kedua ini  masuk kategori penyebab faktor utama secara individu yang tergantung kepada perseorangan atau bergantung kepada orang tersebut. 
 Ketiga, kemiskinan stuktural, yaitu kemiskinan disebabkan oleh kesalahan sistem yang digunakan negara dalam mengatur urusan rakyat. Misalnya bencana alam dan pendistribusian bantuan bencana alam, tidak sampainya informasi-informasi kepada orang miskin baik mengenai keuangan, pendidikan, kesehatan dan  informasi lainnya. Kemiskinan struktural ini  masuk kepada kategori publik (masyarakat) yang memiliki  pengaruh sangat besar terhadap peningkatan angka kemiskinan. Kemiskinan jenis inilah yang menjadi fenomena di berbagai daerah maupun negara  dewasa saat ini, baik di negara-negara sedang berkembang maupun di negara-negara maju.
Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan klinis, langkah selanjutnya adalah  diagnosa dari kasus kemiskinan. Pada tahap ini sudah dapat menentukan penyebab dari sebuah kemiskinan yang terjadi.  Kesalahan dalam mendiagnosa penyebab kemiskinan  akan berefek pada keberhasilan pengentasan kemiskinan karena kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang diberikan sebagai terapi tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal/ keluarga/individu.
Terapi terhadap kemiskinan tentu membutuh kebijakan dalam bentuk program dan kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Strategi untuk mengatasi krisis kemiskinan tidak dapat lagi dilihat dari satu dimensi saja (pendekatan ekonomi), tetapi memerlukan diagnosa yang lengkap dan menyeluruh (sistemik) terhadap semua aspek yang menyebabkan kemiskinan secara lokal. Program kegiatan pengentasannypun harus dilakukan secara lintas sektoral.
Program-program penanggulangan kemiskinan dari pemerintah pusat selama ini yang ikut dirasakan juga oleh masyarakat Sumatera Selatan  selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin. Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. Program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.
Analogi dalam pengentasan kemiskinan memberikan ikan dan kail ternyata belum mampu mengentaskan kemiskinanan. Sering dikatakan bahwa memberi ikan kepada si miskin tidak dapat menyelesaikan masalah. Si miskin akan menjadi tergantung. Kemudian, banyak orang percaya memberi kail akan lebih baik. Si miskin akan lebih mandiri. Analogi ini perlu diperluas dengan mendampingi dan mendidik dengan keterampilan (capacity building) kemudian menjadi kata kunci dalam proses pemberdayaan masyarakat.
Dalam jangka pendek dibutuhkan upaya-upaya atau gerakan penanggulangan kemiskinan dengan program pemberdayaan masyarakat miskin secara lintas sektoral. Salah satu subsektor yang dapat menjadi alternatif yang paling mungkin dilakukan adalah peternakan unggas (ayam dan itik) lokal. Peternakan unggas tidak memerlukan lahan yang luas, di lokasi perumahan yang sempitpun dapat dilakukan dengan sitem umbaran.  kondisi  ini banyak menjadi kedala bagi keluarga miskin terutama di perkotaan.  Unggas termasuk komoditas yang penting dalam peternakan. Hal ini disebabkan karena pemenuhan kebutuhan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia termasuk di Sumatera Selatan sebagian besar dipenuhi oleh protein yang berasal dari unggas.  Selain itu,  pemeliharaan unggas lokal  dapat melestarikan plasma nutfah (itik pegagan), nilai ekonomisnya stabil,   membutuhkan waktu yang pendek untuk berproduksi  dan dapat menjadi sumber pendapatan harian bagi peternak.
Sebagai alternatif program pengentasan kemiskinan,  pemberdayaan masyarakat diarahkan sebagai peternak dan pembibit  unggas (ayam dan itik). Pemerintah dapat   membantu sebanyak  40 ekor kepada setiap keluarga miskin, dengan harapan mampu meningkatkan ekonomi keluarga. Masyarakat penerima juga diberdayakan sebagai pembibit yang hasilnya dapat dibeli kembali oleh Pemerintah untuk disalurkan ke masyarakat miskin yang lain, sambil Pemerintah  juga mempersiapkan sendiri untuk balai pembibitannya.
Bagaimana perhitungan nilai ekonomisnya; Dari 40 ekor ayam dan itik tersebut,  dengan asumsi produksi telur 50 persen perhari maka produksi telur itik sebesar 10 butir x Rp. 2500 = Rp. 25.000,- dan ayam 10 butir x Rp. 2.000,-=Rp. 20.000,-  total pendapatan sehari Rp. 45.000.,  artinya dalam 1 bulan akan diperoleh pendapatan kotor sebesar Rp. 1.350.000. bila merujuk nilai garis kemiskinan  berada pada  nilai pengeluaran Rp. 400.000 perkapita perbulan maka sebulan telah mampu menurunkan angka kemiskinan sebanyak  2-3 jiwa. Berdasarkan tingkat kemiskinan di Sumatera Selatan  pada tahun 2018 sebesar 12,8 persen atau sebanyak 1 juta orang,  maka  untuk menurunkan tingkat kemiskinan  menjadi 9 persen maka dibutuhkan sekitar 300 ribu jiwa yang akan diberikan bantuan ayam dan itik sebanyak 6 juta ekor. Biaya perekor ayam/itik dengan paket bibit dan sarana produksi sebesar Rp. 125 ribu/ekor maka dibutuhkan dana sebanyak Rp. 750 miliar.
Bila dilihat dari APBD Sumsel 2019 yang dialokasikan  untuk penanggulangan kemiskinan sebesar Rp779 miliar yang terbagi di beberapa OPD (Organisasi Perangkat Desa) seperti Dinas Sosial, Pertanian, dan lainnya, lebih dari cukup untuk menurunkan tingkat kemiskinan tahun 2019 turun minimal 1 digit. Program ini dapat dikerjasamakan dengan tiga kabupaten yang tingkat kemiskinannya tertinggi di Sumsel yakni Kabupaten Lahat (16,81 persen), dan Musi Banyuasin (16,75 persen), dan Ogan Komering Ilir (15,75), dan juga Pemerintah Pusat serta dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Semoga dengan komitmen yang kuat, Sumsel akan menjadi lebih maju.....


·         Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang  Sumsel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar