Selasa, 28 Juli 2020

ZOONOSIS, MENGAPA DITAKUTI?

ZOONOSIS, MENGAPA DITAKUTI?

Oleh: DR.Drh.Jafrizal, MM*

 

 

Tepat pada tanggal 6 Juli setiap tahunnya diperingati sebagai hari Zoonosis. Mengapa harus diperingati? Karena 135 tahun yang lalu tepatnya tanggal 6 Juli 1885 seorang ilmuwan bernama Louis Pateur untuk pertama kalinya berhasil melakukan vaksinasi penyakit zoonosis rabies. Dengan peringatan hari zoonosis ini paling tidak menumbuhkan kesadaran dan kepedulian mengingat betapa banyak nyawa manusia di dunia melayang akibat keganasan penyakit zoonosis.

Penyakit zoonosis merupakan penyakit dari hewan yang menular kepada manusia,  menjadi momok yang sangat ditakuti. Ketakutan yang diekspresikan belum sebanding dengan   usaha pencegahan yang lakukan. Usaha yang dilakukan lebih menonjolkan segi kuratifnya dari pada segi preventif. Pencegahan baru sebatas sosialisasi hidup sehat dengan jargon yang salah  “jangan mendekati hewan, jangan memelihara hewan, jangan makan produk hewan”. Pencegahan belum menyentuh upaya penyehatan hewannya agar tidak menular kepada manusia.

Menurut WHO, tidak kurang dari  300 penyakit hewan yang dapat menulari manusia. Dalam 20 tahun terakhir, 75 persen penyakit menular baru yang terjadi pada manusia merupakan penyakit zoonosis. Sejarah telah mencatat, setidaknya ada beberapa enam penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang  mematikan pernah terjadi di dunia: Influenza pada tahun 1918 pada unggas telah membunuh 50 juta orang dan 2009 pada babi telah membunuh 300 ribuan orang di di 214 negara; Ebola dari kelelawar di Afrika Barat 40 tahun lalu telah menewaskan 13 ribuan orang, Demam berdarah dari nyamuk telah menginfeksi 390 juta orang secara global setiap tahunnya, serta penyakit Rabies yang tak pernah tuntas di Indonesia, Leptospirosis yang berasal dari tikus, Anthrak yang masih mewabah di Gorontalo, Covid-19 yang disinyalir dari kelelawar serta Tuberkulosis  yang masih mewabah sampai saat ini. 

 

Penularan Pencegahan Penyakit

Penularan penyakit dari hewan dapat terjadi bila hewan menderita sakit. Hanya hewan yang menderita penyakit menular yang dapat menularkan penyakit kepada manusia. Penularan dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu kontak langsung dengan hewan yang menderita sakit, atau kontak tidak langsung dengan vektor/perantara yang membawa penyakit, atau melalui konsumsi pangan yang berasal dari hewan sakit, atau melalui aerosol di udara ketika seseorang berada dilingkungan yang tercemar. Hewan penularnya bisa dari satwa liar, hewan kesayangan, hewan ternak dan hewan yang berada disekitar rumah, seperti tikus, kelelawar, serta insekta.

Melihat banyaknya hewan penular dan cara penularannya tentu saja untuk melakukan antisipasi penularanya dibutuhkan pemahaman yang menyeluruh tentang penyakit zoonosis satu per satu. Secara ringkas dapat kita bagi upaya pencegahan dalam rangka antisipasi agar tidak menular dengan langkah-langkah sebagai berikut: Memantau dengan melakukan pemeriksaa laboratorium untuk hewan yang kemungkinan memiliki peluang lebih besar untuk menularkan penyakit kepada manusia, melakukan vaksinasi untuk menungkatkan imunitas dari hewan,  memantau kesehatan hewan dan tata laksana peternakan, memperketat pengawasan lalu lintas hewan,  mensosialisasikan gejala klinis hewan yang tertular penyakit zoonosis, melarang memasukkan produk hewan yang berasal dari daerah tertular, menjaga kebersihan, melakukan biosekurity dan desinfeksi lingkungan.

Usaha-usaha di atas merupakan upaya untuk tetap menjaga agar produk hewan dan hewan disekitar kita  agar selalu sehat. Akan tetapi, upaya tersebut tentunya bukan hal yang gampang bila tidak didukung dengan kesepahaman dan kemauan. Kesepahaman yang dimaksud disini adalah bahwa penyakit zoonosis telah menjadikan kita menjadi krisis kesehatan, dengan krisis kesehatan akan mengeluarkan banyak anggaran untuk pengobatan. Dari pada mengeluarkan banyak anggaran untuk pengobatan maka tindakan pencegahan pada hewan penular menjadi hal yang lebih baik dilakukan sebelum menular ke manusia. Setelah paham, maka hal terakhir yang dibutuhkan adalah kemauan untuk melakukan upaya pencegahan pada hewan.

Kesehatan Hewan Diabaikan

Tak dapat dibantah bahwa kita belum memberikan perhatian yang serius pada sumber penyebab penyakit zoonosis yakni kesehatan hewan penular itu sendiri. Bagaimana tidak nilai nyawa manusia lebih penting dari pada seekor kelelawar, sapi, babi dan ayam. Bila hewan tersebut terserang sakit atau mati, tidak sedikit dari kita yang abai dan menyepelekan dan tak sedikit yang kadang membunuh dan memakan dagingnya. Bagaimana jikalau hewan tersebut terserang suatu penyakit yang dapat menular ke manusia seperti  anthrak, influenza, rabies dan lain sebagainya. Hal ini akan berakibat fatal dan membahayakan kesehatan manusia.   

Jalan pintas membunuh populasi hewan bukanlah solusi yang bijak karena hewan merupakan bagian dari ekosistem. Salah satu hewan punah maka akan mengganggu proses dalam ekosistem dan bisa jadi meningkatnya populasi dari hewan yang lainnya. Hal ini yang menciptakan kondisi ketidak seimbangan dalam ekosistem. Maka salah satu upaya yegah penyebaran penyakit menular adalah dengan melestarikan keragaman hayati dan hewani dengan kondisi lingkungan yang sehat tidak terkecuali hewan dalam ekositem juga harus sehat.

 Program Kolaboratif

Perlu diketahui, konsep One Health merupakan suatu upaya kolaboratif dari berbagai sektor, utamanya kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global untuk mencapai kesehatan yang optimal. Konsep One Health  lebih menekankan pada  pola kerjasama dan bersama bekerja dalam bentuk kolaborasi bukan koordinasi seperti yang telah diterapkan selama ini. Tidak seorang yang dapat membantah bahwa penyakit zoonosis dapat dikendalikan dengan konsep one health, akan tetapi bagaimana menerapkannya di lapangan tentu saja masih menjadi kendala.

Dengan sistem di Pemerintahan kita saat ini, sistem perencanaan disusun oleh dinas teknis masing-masing maka akan sulit suatu dinas melaksanakan kegiatan kolaboratif, yang ada adalah program yang memiliki sasaran yang berbeda walaupun sebenarnya memiliki tujuan sama. Kondisi ini akan mengakibatkan suatu program tidak akan optimal karena keterbatasan sumber daya dan anggaran. Berbeda halnya dengan bila dilaksnakan secara kolaborasi, seperti misalnya pencegahan rabies di Kota Palembang, dengan kolaborasi antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian serta Dinas Lingkungan Hidup secara bersama menganggarkan  anggaran dan sumber daya manusia tentulah akan menjadi pekerjaan ringan. Kekurangan tenaga untuk vaksinasi hewan dan dana akan dapat saling menutupi. Sekarang yang jadi pertanyan siapa yang akan mengkoordinir?

Koordinator yang tepat  adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, karena  sebagai badan perencana daerah yang menyususn perencanaan daerah secara makro tentu saja program kolaboratif atau lintas sektorall menjadi kewenangannya. Keberhasilan program pengendalian penyakit zoonosis  tidak terlepas dari polical will dari pimpinan daerah. Program tidak akan berhasil bila tidak di dukung oleh pimpinan daerah dalam hal ini adalah Walikota maupun Gubernur.

             Kemauan dari pimpinan daerah pun belum cukup tanpa dukungan dari masyarakat. Tentunya perlu didukung komitmen dari semua pihak untuk tetap menjaga agar lingkungan dan hewan sebagai sumbernya harus tetap bersih dan sehat sehingga terhindar dari penyakit yang akan menular kepada manusia. Manusya Mriga Satwa Sewaka.

 

 

*Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Sumsel


Tidak ada komentar:

Posting Komentar