Kamis, 30 Januari 2020

KORONA VIRUS, HEWAN MENJADI TERSANGKA


KORONA VIRUS,
HEWAN MENJADI TERSANGKA
Oleh
DR. Drh. JAFRIZAL, MM

Kasus Corona di Wuhan China membuat kita terbelalak, bagaimana tidak, kejadiannya dalam sebuah video yang beredar, sungguh  sangat menakutkan. Korban berjatuhan dan mayat bergelimpangan. Benarkah demikian?  Situasi terakhir penyebaran Korona Virus dilaporkan WHO pada tanggal 27 Januari 2020   2798 kasus yang terkonfirmasi, 2741 kejadian di China, 37 kasus berada di luar  China (US, Kanada, Australia, Jepang, Korea, Vietnam, Singapura, Malaysia), 80 orang di antaranya meninggal dunia. Sampai saat ini belum ada laporan kasus konfirmasi di Indonesia.
Koronavirus merupakan virus dari familia Coronaviridae yang memiliki membran dengan mahkota glikoprotein yang dapat  menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia (termasuk manusia). Glikoprotein koronovirus dapat berikatan dengan glikoprotein permukaan sel inang secara spesifik untuk memulai terjadinya infeksi. Penularan virus melalui kontak langsung dan secara tidak langsung oleh aerosol. Infeksi virus ini dapat menimbulkan gejala penyakit pada manusia yang bervariasi, mulai dari hampir tidak timbul gejala apapun hingga gejala yang fatal dan cepat seperti kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di China tahun 2002 dan Middle East Respiratory Syndromr (MERS) di Arab Saudi tahun 2012. Koronavirus manusia yang banyak dipublikasikan ditemukan pada tahun 2003, SARS-CoV yang menyebabkan sindrom pernapasan akut (SARS), memiliki patogenesis unik karena menyebabkan infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah.
Infeksi koronavirus dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti bronkitis, ensefalitis, gastroenteritis, dan hepatitis. Virus corona diyakini menyebabkan pilek pada manusia dewasa dan anak-anak dengan gejala-gejala utama, misalnya demam, kelenjar gondok yang membengkak, pada manusia terutama di musim dingin dan awal musim semi. Coronavirus dapat menyebabkan pneumonia, baik pneumonia virus atau pneumonia disertai bakteri sekunder.  Kasus di Wuhan China ini merupakan Koronavirus yang baru yang diberi nama Novel Corona Virus 2019 (2019-nCoV) yang memiliki perbedaan secara genetik dengan   dengan Sars dan MERS.
Menurut Journal of  Medical Virology pada 22 Januari 2020 yang menyatakan bahwa ular merupakan reservoir yang paling memungkinkan penyebab dari kasus di Wuhan karena koronavirus ular berbisa yang dijual di pasar Wuhan memiliki kemiripan 82%. Namun dibantah beramai-ramai  oleh para peneliti dari Institut Virologi Wuhan, Rumah Sakit Wuhan, Universitas Akademi Sains Tiongkok yang menyatakan virus korona ini berasal dari kelelawar, karena analisis  mereka menunjukan ada 96% kemiripan  dengan koronavirus yang diisolasi dari kelelawar. Hewan kelelawar yang dijual sebagai makanan di Laut Huanan Wuhan dicurigai sebagai perantara virus. Jadi benarkah korona pada manusia berasal dari hewan? Sampai saat ini masih menjadi hipotesa.  Belum ada laporan pasti yang menyatakan bahwa koronavirus pada hewan menular ke manusia. Koronovirus bisa menular karena  mengalami mutasi genetik. Mutasi genetik virus korona bisa saja terjadi karena rekombinasi material genetik  coronavirus  pada ular  dikawinkan dengan kelelawar untuk waktu yang lama kemudian menyebar ke spesies  kelelawar dan akhirnya untuk manusia.

Hewan Menjadi Tersangka
WHO telah melaporkan bahwa 80% penyakit menular baru (Emerging Infectious Disease) yang terjadi pada manusia berasal dari hewan (zoonosis). Indonesia adalah negara yang termasuk ke dalam negara  beresiko tinggi terhadap  penyakit zoonotik terutama  berasal dari hewan liar. Kondisi ini didukung oleh perubahan ekologi,  demografi dan perilaku manusia, perjalanan dan perdagangan inetnasional, teknologi dan adaptasi mikroorganisme. Ada sekitar 250 jenis penyakit zoonoisi di dunia, 15 jenis  di antaranya merupakan zoonosis prioritas di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian, 3 jenis diantaranya ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan menjadi prioritas yakni Avian Influenza, Rabies dan Antraks belum termasuk Korona virus.
Korona virus  pada hewan di Indonesia  menyerang hewan terutama ayam, kucing, anjing, kelinci, babi dan sapi. Virus corona juga menyebabkan berbagai penyakit pada hewan ternak dan peliharaan, beberapa di antaranya bisa serius dan merupakan ancaman bagi industri peternakan Kejadian kasus tersebut dilaporkan oleh praktisi dokter hewan di lapangan antara lain:   Infectious bronchitis virus (IBV) menyebabkan penyakit pernafasan akut, pencernaan dan saluran reproduksi yang sangat menular pada ayam. Pada ayam petelur menyebabkan penurunan produksi telur dan penurunan kualitas telur; Porcine coronavirus yang menyerang babi; Bovine coronavirus (BCV), yang menyerang  sapi muda yang menyebabkan enteritis parah;  Felline Coronavirus menyebabkan enteritis ringan pada kucing dan juga peritonitis yang parah; dua jenis canine coronavirus (CCoV) (satu menyebabkan enteritis, yang lainnya ditemukan pada penyakit pernapasan). Coronavirus enterik kelinci menyebabkan penyakit gastrointestinal akut dan diare pada kelinci muda. Kasus korona virus pada hewan tersebut memiliki angka kematian tinggi.

Peran Pemerintah
Hal yang berbeda kasus Korona virus pada manusia, Pada hewan usaha pencegahan yang paling efektif adalah dengan vaksinasi yang sudah tersedia, disenfeksi dan biosekuriti. Vaksinasi digunakan untuk merangsang antibodi dalam tubuh hewan agar dapat melawan virus yang menyerang. Disinfeksi dalkukan untuk membunuh dan mensucihamakan kuman yang berada di lingkungan,  sedangkan biosekuriti agar tidak ada lintas hewan pembawa yang masuk ke dalam lingkungan/kandang hewan. Usaha pencegahan ini dapat memberikan hasil yang sangat memuaskan terutamamenurunkan kematian  pada hewan anjing dan ayam.
             Bagaimana pencegahan pada manusia? Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengeluarkan beberapa panduan untuk mencegah dan menghindari penyebaran virus corona. Hal ini senada dengan imbauan yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan meningkatkan imunitas tubuh melalui pola makan bergizi serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); Memperketat pengawasan di pintu masuk internasional terutama dari daerah yang tertular yakni dengan pemeriksaan suhu tubuh di bandara dengan thermal scannerdengan gejala pneumonia berat; melakukan perawatan, pengobatan dan isolasi terhadap pasien ; Mendeteksi merespon jika ditemukan pasien penderita; Selama melaksanakan tugas, para petugas untuk selalu menggunakan   Alat Pelindung Diri sesuai dengan standar urntuk penangan penyakit menular.
Peran Otoritas Veteriner     
 Bagaimana dengan  pencegahan  terhadap hewan penular? Meskipun hewan penular belum menjadi penyebab yang menakutkan, tetap harus menjadikan kita tetap waspada. Kondisi ini disebabkan oleh karena migrasi satwa di Asia Tenggara hal yang mungkin terjadi. Himbauan  terkait dengan  penangan hewan penular tersebut dibutuhkan peran Lembaga Otoritas Veteriner.  Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2017 tentan Otoritas Veteriner, bahwa tugas dari Pejabat Otoritas Veteriner nasional adalah melakukan kerja sama dengan negara lain atau pihak internasional lain dalam penanganan Penyakit Hewan lintas batas, Penyakit Hewan yang baru muncul, dan Penyakit Hewan yang muncul kembali; menganalisis prasarana dan sarana Veteriner serta kemampuannya dalam  merespon ancaman Penyakit Hewan skala nasional dan internasional terhadap Kesehatan Hewan dan kesehatan manusia.  Berdasarkan tugas diatas maka sepatunya   Lembaga Otoritas Veteriner Nasional/Lembaga Otoritas Veteriner Kementerian Pertanian  juga ikut mengeluarkan himbauan yang akan menjadi panduan bagi Otoritas Veteriner di daerah sebagai  acuan  melaksanakan tindakan.

Tip Bagi Masyarakat
Apa yang harus dilakukan masyarakat terkait dengan Korona virus ini? Ada beberapa langkah  yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menghindari virus corona:
Pertama, janga panik harus tetap tenang dan berdoa; Kedua, kenali sifat dari virus korona. Virus korona memiliki membran yang mudah rusak karena disenfektan dan sabun maka seringlah mencuci tangan dengan air dan sabun selama 20 detik. Pastikan tangan, jari, dan kuku bersih dari kuman; Ketiga, Virus Korona bisa menular melalui menyentuh cairan bersin/daha, maka  hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang tidak bersih; Keempat,  Virus Korona bisa menular kontak lansung dengan penderita, maka hindari kontak dekat dengan orang yang sakit atau orang yang baru datang dari daerah wabah; Kelima, virus Korona dapat menular melalui aerosol atau cairan bersin maka gunakan masker bila dalam situasi bepergian dan orang ramai; Keenam, bagi pecinta hewan, oleh karena virus korona disinyalir menular dari hewan,  maka bila berinteraksi dengan hewan pastikan kesehatan hewan dan kesehatan anda dalam kondisi sehat; Ketujuh,  jika Anda memiliki penyakit atau gejala, berusahalah untuk tidak menularkan virus kepada orang dengan memakai masker dan lebih baik istrahat di rumah dan mengkonsumsi vitamin E dan C.
Harapan
Dari banyaknya  kasus zoonosis yang merupakan penyakit internasional, tentu saja Indonesia menjadi  salah satu negara yang ikut terancam. Usaha pencegahan  bila penyakitnya belum ada dan penanggulangan  bila penyakitnya telah terjadi tentu saja menjadi penting untuk menyelamatkan masyarakat. Penyakit zoonosis  termasuk Korona virus  menjadi penting artinya bukan saja terkait masalah sosial akan tetapi dampaknya secara ekonomi. Harapan kita agar penerapan  konsep One Health dimana Kesehatan manusia, kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Hewan menjadi kolaborasi yang utuh menuju Indonesia sehat.
DR. Drh. Jafrizal, MM
Pejabat Otoritas Veteriner Kota Palembang

DIMUAT DI HARIAN SUMATERA EKSPRES TANGGAL 29 JANUARI 2020


Tidak ada komentar:

Posting Komentar