Jumat, 31 Desember 2021

MEMAKNAI HARI TELUR DUNIA

MEMAKNAI

HARI TELUR DUNIA

Oleh: Dr. drh. Jafrizal, MM*

 

Sejak 25 tahun lalu tepatnya tahun 1996 di Wina telah dideklarasikan Hari Telur Sedunia yang  sampai sekarang dirayakan pada setiap tanggal 8 Oktober.   Sejak itu, penggemar telur di seluruh dunia telah memikirkan cara-cara kreatif baru untuk menghormati sumber tenaga nutrisi yang luar biasa unik ini. 

Keuniknya sebutir telur melahirkan  berbagai  filosofi yang bagus untuk dijadikan pelajaran. Satu butir telur memiliki makna keutuhan, keluarga besar yang utuh dan sehat. "Jika telur dipecahkan dengan kekuatan dari luar, maka akan muncul dua konsekuensi yakni: kehidupan yang berada di dalamnya akan ikut berakhir (mati) dan bila diolah dengan baik akan menjadi manfaat bagi kehidupan. Tapi, jika telur dipecahkan dengan kekuatan dari dalam, maka  akan muncul kehidupan baru yang lebih dahsyat." Hal ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar bila kita tidak bisa mengelolanyanya dengan baik akan akan berbahaya,  sebaliknya sesuatu yang hebat dan luar biasa akan selalu dimulai dari dalam.  

Dari filosofi telur ini kita dapat mengambil hikmah bahwa  kekuatan dari dalam diri kita, lingkungan kita menjadi modal paling utama untuk lebih maju. Selain itu alasan memilih tentang telur tentu saja telur merupakan sumber protein dan sumber ekonomi yang memiliki backward linkage dan forward linkage.  Dengan program makan telur akan dapat meningkatkan minat pemeliharaan  hewan serta juga akan mendorong industri pengolahan produk berbahan baku telur sehingga  dapat meningkatkan kesehatan,  kecerdasan otak dan kekuatan otot, menurunkan angka kurang gizi yang menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak (stunting), angka kemiskinan menurunkan angka pengangguran serta dapat  menggerakkan ekonomi.

Stunting dan Kemiskinan

Dari berbagai manfaat dari telur di atas, ada beberapa yang dapat menjadi hal yang perlu memperoleh perhatian adalah telur untuk kesehatan, mencegah stunting dan menurunkan angka kemiskinan. Bila kita lihat data dari ketiga indikator tersebut maka kita akan menemukan garis merah hubungan ketiganya.   Menurut data Dinas Kesehatan, sebanyak 1.116 balita di Kota Palembang mengalami stunting pada 2020. Dari 121.804 balita di Palembang sekitar 1,7 persen diantaranya mengalami stunting. Begitu juga di Sumsel, ada 11.863 balita mengalami stunting. Berdasarkan data statistik pada bulan Maret 2020 penduduk miskin di Kota Palembang meningkat menjadi 182,61 ribu orang dibandingkan dengan Maret 2019  sebanyak 180,67 ribu orang. 

Kemiskinan menjadi salah satu biang permasalahan stunting walaupun ada faktor lain. Memang, penangganan stunting tidak hanya cukup dengan perbaikan gizi saja  akan tetapi juga terkait akses layanan dasar seperti akses air bersih dan sanitasi yang memadai. Masalah stunting akan menyentuh paling banyak pada faktor kemiskinan sehingga pengentasanya membutuhkan sinergi bersama.  Permasalahan ini dapat dituntas dengan program gotong royong dengan kerjasama dan sama-sama bekerja sesuai dengan kewenangan masing-masing.  

Bila kita merujuk pada pepatah ” negeri yang banyak ternak adalah negeri yang makmur” maka peternakan akan menjadi simbol bahwa negari itu adalah negeri yang kaya. Tidak salah jaman dahulu yang memiliki peternakan adalah para bangsawan. Bagi bangsawan beternak menjadi tempat penyaluran hobi, akan tetapi bagi masyarakat biasa akan mendongkrak ekonomi rumah tangga. Paling tidak dengan beternak dapat menghasilkan hasil produknya yang dikonsumsi sendiri  berupa protein hewani sehingga dapat membantu menurunkan angka stunting. 

 

Konsumsi Tidak Merata

Bila kita lihat data Asosiasi Masyarakat Perunggasan bahwa konsumsi telur  masyarakat Kota Palembang sekitar 100 ton perhari  atau 35% dari produksi telur Sumsel. Kementerian Pertanian mencatat, konsumsi per kapita telur ayam orang Indonesia hanya 7,6 Kg per tahun atau sekitar 1 butir telur per 4 hari. Padahal rekomendasi konsumsi telur adalah minimal 4 butir per minggu. Bila dibandingkan dengan Kota Palembang dengan jumlah penduduk 1.7 juta maka konsumsi telur perkapita pertahun mencapai 20 kg atau  sekitar 0.9 butir perkapita/hari. Dari data ini dapat kita katakan bahwa konsumsi telur masyarakat Kota Palembang jauh di atas rata-rata konsumsi nasional. 

Pertanyaannya adalah mengapa kasus stuntingnya masih tinggi? Data konsumsi yang dihitung merupakan data rata-rata yang diasumsikan bahwa semua telur yang dikonsumsi merata kepada setiap orang. Padahal kenyataannya tidask semua orang dapat mengkonsumsi telur. Masih banyak yang dalam satu minggu hanya bisa mengkonsumsi telur hanya satu butir sementara yang berkemampuan bisa menkonsumsi sehari  bisa sampai 3 butir. Ketimpangan inilah yang harus dilakukan pemerataan dengan berbagai program salah satunya adalah beternak unggas petelur. 

 

Beternak Unggas Petelur

Program beternak unggas (ayam/itik) petelur ala perkotaan yang sering kita sebut dengan urban farming menjadi salah satu  program alternatif dalam meningkatkan ekonomi masyarakat miskin. Tentu saja program seperti ini harus melalui proses seleksi sesuai dengan peminatan dan kondisi lingkungan. Setiap satu keluarga bisa beternak 10 ekor ayam yang dilepaskan dilingkungan rumah akan mampu memberikan tambahan penghasilan atau memberikan tambahan asupan protein bagi keluarga miskin setiap hari. Program ini dapat dikombinasikan dengan program pengentasan kemiskinan yang lain. 

Dengan program beternak ungags petelur, masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan akses untuk mengkonsumsi telur yang dihasilkan oleh ternaka mereka sendiri. Telur merupakan makanan kaya protein dan menjadi salah satu makanan paling berguna bagi kesehatan. Satu butir mengandung protein kurang lebih 6 gram. Telur juga mengandung semua asam amino esensial dalam rasio yang tepat, sehingga tubuh anak dilengkapi dengan protein yang bermanfaat sehingga telur dapat digunakan sebagai salah satu makanan untuk mengentaskan stunting dan meningkatkan kecerdasan. Perlu juga diingat bahwa telur merupakan produk yang mudak tercemar dan rusak sehingga harus terjamin kesehatannya.

Jaminan Kesehatan Telur

Terkait keamanan dan kesehatan produk pangan asal hewan ini di Kota Palembang telah ada aturan yakni Peraturan daerah No 2 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Peternakan dan Kesehatan Hewan. Di dalam peraturan ini telah diatur bagaimana beternak yang baik dan menjaga kesehatan hewan dan produk ternaknya. Khusus untuk peternak petelur,  telur dan olahannya merupakan bahan pangan asal hewan bersifat mudah tercemar oleh mikroba yang menyebabkan bahan pangan asal ternak mudah rusak. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kewajiban bagi peternakan dan usaha pengolahan wajib  memiliki Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sebagai bukti penjaminan kesehatan dari produk yang dihasilkan memenuhi kesehatan dan keamanan pangan yaitu Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). 

Saat ini, hampir semua peternakan ayam petelur di Sumsel belum mengantungi sertifikat NKV. Salah satu syarat administrasi untuk mendapatkan NKV adalah memiliki izin usaha. Izin usaha  selama ini masih terhambat karena lokasi usaha peternakan tidak sesuai dengan peraturan tata ruang di daerah. Umumnya usaha peternaklan berada dalam lokasi wilayah permukiman.  . Berkenan  dengan perizinan tesebut mengingat Kota Palembang adalah Kota Metropolitan tentu saja usaha tersebut tidak dapat dilaksanakan dalam jangka panjang akan tetapi bisa saja diberikan perizinan berjangka agar pengurusan masalah sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner dapat dilaksanakan dengan persyaratan teknis yang ditentukan oleh pemerintah. Dengan status Kota Metropolitan ke depan semua produk pangan asal hewan tidak hanya telur telah memiliki sertifikasi NKV dan sertifikat halal. 

Harapan 

Dengan peringatan hari telur dunia maka akan meningkatkan kesadaran akan pentingnya manfaat telur, mendorong mpengusahaan  ayam petelur.  Dengan mengkonsumsi telur akan memberikan efek domino pada sektor yang memiliki keterkaitan ke belakan dan ke depan, dapat menggerakan roda usaha peternakan dan membuka lapangan kerja, mengatasi pengangguran, mengurangi stunting dan mengentaskan kemiskinan. Semoga program beternak ayam petelur ala perkotaan akan menjadi salah satu alternatif pengentasan kemiskinan. Program ini dapat dilaksanakan dengan kolaborasi semua pihak.  

 

*Medik Veteriner Madya, Ketua PDHI Sumsel

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar