Kamis, 25 September 2025

Mencegah Keracunan di MBG: Dari Dapur Bersih dengan Sertifikat NKV

Mencegah Keracunan di MBG: Dari Dapur Bersih hingga Sertifikat NKV

Oleh : Dr. drh. Jafrizal, MM*


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah mulia pemerintah untuk memperkuat gizi anak sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan. Namun, di balik niat baik itu, ada ancaman serius yang tidak boleh diabaikan: keracunan makanan massal.

Kasus keracunan di sekolah sudah beberapa kali terjadi di berbagai daerah, melibatkan puluhan bahkan ratusan siswa. Situasi ini mengingatkan kita bahwa program bergizi tidak boleh abai pada aspek paling dasar: keamanan pangan.

Mengapa Keracunan Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor utama pemicu keracunan pada penyelenggaraan MBG: Penerapan  higiene dan sanitasi dapur, peralatan, air hingga pekerja kurang diawasi; Produk asal hewan tanpa Sertifikat NKV (Nomor Kontrol Veteriner). Padahal, daging, telur, dan susu adalah bahan paling rawan terkontaminasi bakteri berbahaya; Rantai distribusi makanan terlalu panjang. Makanan dimasak pagi, baru dimakan siang atau sore tanpa pengendalian suhu; Jumlah siswa sangat banyak sehingga distribusi terburu-buru, peluang kontaminasi silang meningkat; 

Dapur MBG tidak memenuhi standar kuota kebutuhan porsi MBG, sehingga memasaknya dipercepat. 

Jika semua masalah ini dibiarkan, keracunan massal hanya tinggal menunggu waktu.


Jalan Keluar: Teknis, Taktis, dan Profesional

Bahan Pangan Bersertifikat: Produk asal hewan wajib dari tempat dengan Sertifikat NKV. Ini jaminan bahwa bahan aman, higienis, dan terkontrol

Kelola Waktu Masak dan Konsumsi: Makanan matang idealnya langsung dimakan. Bila harus menunggu lebih dari dua jam, suhu harus dijaga: panas ≥60°C atau dingin ≤5°C. Distribusi sebaiknya bertahap (batch system) agar makanan tetap segar.

Terapkan Higiene dan Sanitasi Ketat: Ikuti 5 Kunci Keamanan Pangan WHO:

1. Jaga kebersihan.

2. Pisahkan makanan mentah dan matang.

3. Masak hingga benar-benar matang.

4. Simpan pada suhu aman.

5. Gunakan air dan bahan baku yang bersih.

Selain itu, semua juru masak perlu dilatih rutin tentang sanitasi dan cara memasak yang sehat.

Atur Pola Makan Siswa: Jumlah siswa banyak bisa diatasi dengan sistem shift makan. Distribusi lebih terkendali, mutu makanan terjaga, risiko keracunan berkurang. Jangan lupa, biasakan siswa cuci tangan sebelum makan.

Pengawasan Rutin: Sekolah atau penyelenggara MBG perlu membentuk Tim Keamanan Pangan yang juga dapat melibatkan Auditor NKV atau Pengawas Kesmavet. Tugasnya: memantau dapur, menguji tempat penyimpanan bahan pangan asal hewan,  menguji sampel makanan, hingga memastikan kebersihan peralatan.

Manfaatkan Teknologi: Gunakan wadah thermo-safe, beri label waktu masak dan batas konsumsi, serta gunakan sistem digital sederhana untuk memantau suhu penyimpanan.

Tambah Dapur MBG: Penambahan dapur agar dapat memenuhi kuota porsi makan MBG agar lebih segar.

Evaluasi Siswa Penerima Agar Tepat Sasaran: Selain keamanan pangan, ketepatan sasaran penerima MBG juga penting. Evaluasi berkala diperlukan agar program benar-benar menjangkau siswa yang membutuhkan tambahan gizi, terutama dari keluarga rentan. Jika sasaran tepat, manfaat gizi akan lebih optimal, dan potensi pemborosan bisa ditekan.

Penutup

Keracunan di MBG bukan sekadar persoalan dapur, tapi soal sistem keamanan pangan yang harus dibangun dengan serius. Dengan solusi brilian (sertifikasi NKV, teknologi thermo-safe), taktis (pengaturan distribusi dan shift makan), serta profesional (HACCP, pengawasan ketat), MBG bisa menjadi program unggulan yang aman sekaligus menyehatkan. Ditambah dengan evaluasi siswa penerima, program ini bukan hanya sehat, tapi juga adil dan tepat sasaran.

Sudah saatnya kita memandang MBG bukan hanya sekadar agenda makan bersama, melainkan sebagai investasi kesehatan generasi muda Indonesia.


*Pejabat Otoritas Veteriner Prov Sumsel

*Auditor NKV Prov Sumsel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar