Sultan Muda: Solusi Konkret Pengentasan Pengangguran
Oleh: Dr. drh. Jafrizal, MM*
Indonesia masih menghadapi tantangan serius: tingginya angka pengangguran dan rendahnya jumlah pengusaha dibandingkan negara lain. Padahal, di tengah bonus demografi, anak-anak muda Indonesia—termasuk di Sumatera Selatan—sesungguhnya menyimpan potensi luar biasa. Kuncinya ada pada satu hal: wirausaha sejak usia muda.
Tantangan di Sumatera Selatan
Di Sumatera Selatan, menurut data Badan Pusat Statistik, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2025 tercatat 3,89%, atau sekitar 179 ribu orang. Sementara itu, jumlah penduduk miskin masih mencapai 948,84 ribu jiwa atau 10,51% dari total populasi.
Yang lebih memprihatinkan, pengangguran ini didominasi oleh kalangan muda, khususnya lulusan SMA dan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja. Angka ini menegaskan bahwa bonus demografi bisa berubah menjadi bencana jika tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja baru.
Situasi ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan membuka lowongan kerja formal semata. Diperlukan terobosan nyata: mencetak lebih banyak pengusaha muda yang mampu menciptakan kerja, bukan sekadar mencari kerja.
Program 100.000 Sultan Muda
Langkah visioner telah ditunjukkan oleh Gubernur Sumatera Selatan melalui gagasan Program 100.000 Sultan Muda. Program ini dapat menjadi pelopor dalam mendorong lahirnya generasi wirausaha sejak dini. Melalui pelatihan, pendampingan, hingga akses modal, anak-anak muda Sumsel diarahkan bukan hanya untuk bekerja, tetapi untuk menciptakan lapangan kerja bagi sesama.
Program ini berpotensi menjadi inspirasi nasional. Jika setiap provinsi melahirkan ribuan sultan muda, maka Indonesia tidak hanya mengurangi pengangguran, tetapi juga mencetak pengusaha tangguh yang siap bersaing di pasar global.
Bukan Hanya Hulu, Tapi Hilirisasi dan Kreativitas
Selama ini, banyak usaha di daerah masih bergantung pada sektor hulu sumber daya alam. Padahal, anak muda harus berani melangkah lebih jauh. Sultan muda tidak boleh hanya berkutat di sektor hulu, tetapi juga harus mengembangkan:
Hilirisasi pangan: mengolah hasil pertanian dan perkebunan menjadi produk bernilai tambah.
Kuliner: menjadikan kekayaan cita rasa lokal sebagai kekuatan ekonomi baru.
Ekonomi kreatif: mengembangkan desain, digital, fesyen, musik, dan film yang bernilai global.
Keberanian masuk ke sektor-sektor ini akan menggerakkan ekonomi melalui peningkatan nilai tambah, sekaligus menghidupkan identitas budaya dan memperkuat kedaulatan pangan bangsa.
Peluang Ekspor: Bandara dan Pelabuhan Internasional
Momentum ini semakin lengkap dengan hadirnya Bandara Internasional di Sumatera Selatan dan rencana pembangunan Pelabuhan Internasional. Infrastruktur ini akan membuka jalur ekspor langsung bagi produk-produk kreatif dan hasil hilirisasi pangan yang dihasilkan oleh para sultan muda.
Artinya, anak muda Sumsel bukan hanya berbisnis untuk pasar lokal, tetapi juga punya peluang besar menembus pasar internasional. Dengan dukungan infrastruktur kelas dunia, karya anak bangsa bisa lebih mudah dikenal, dijual, dan bersaing di mancanegara.
Saatnya Melahirkan Sultan Muda
Indonesia tidak boleh lagi sekadar mencetak pencari kerja, tetapi harus melahirkan pencipta kerja. Dengan program seperti 100.000 Sultan Muda di Sumsel, ditambah dukungan infrastruktur ekspor, kita memiliki pelopor yang bisa ditiru oleh daerah lain.
Sultan muda adalah solusi nyata: menggerakkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, menurunkan pengangguran, mengurangi kemiskinan, meningkatkan daya saing, sekaligus menjadikan Indonesia lebih berdaulat secara ekonomi.
*) Dosen Magister Manajemen Aprin Palembang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar