Nasib Kerbau Rawa Pampangan?
Statemen di atas tidaklah berlebihan jika melihat data BPS (2024) bahwa total populasi kerbau di Sumsel pada tahun 2021 sebanyak 27.161 ekor turun menjadi 15.110 ekor pada tahun 2023. Hampir 50 persen populasi kerbau turun dalam 2 tahun terakhir. Kalau data ini secara faktual benar, maka kondisi ini sangatlah memperihatinkan mengingat kerbau rawa (swamp buffalo) merupakan salah satu fauna endemik yang telah diakui pemerintah sebagai plasma nutfah di Sumsel merupakan sumber daya genetik (SDG) ternak lokal Indonesia yang tidak dimiliki daerah lain. Hal ini didukung oleh Keputusan Menteri Pertanian nomor 694/Kpts/PD.410/2/2013 dan Badan Standardisasi Indonesia pada April 2016 menerbitkan standar nasional Indonesia (SNI) nomor 8292.2 tahun 2016 soal bibit unggul kerbau pampangan yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi.
Hewan bernama ilmiah Bubalus bubalis yang memiliki keunggulan yang khas dalam mencari makan dengan cara berenang dan menyelam menjadi daya tarik tersendiri. Berdasarkan hal itu, Pemprov Sumsel pada tahun 2016 membangun Pusat pengembangan Kerbau Rawa di Rambutan dengan tujuan agar dapat mempertahankan genetik asli, pengembangan kerbau, produk, menjadikan tempat edukasi dan wisata.
Ciri khasnya gemar berenang dan menyelam di kawasan rawa gambut yang terdapat di Kecamatan Pedamaran, Jawi, Pangkalan Lampam, dan Pampangan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), di Kecamatan Tanjung Senai (Kabupaten Ogan Ilir) dan Kecamatan Rambutan (Kabupaten Banyuasin). Tiga wilayah tersebut merupakan daerah endemik kerbau rawa karena merupakan lumbung gambut Sumsel dengan luas total sebesar 1,2 juta hektare. Dengan luas 1,2 juta hektar dapat menampung populasi kerbau sebanyak 2,4 juta ekor. Berdasarkan keunggulan komparatif populasi kerbau dan luasnya rawa yang dimiliki oleh ketiga daerah kabupaten tersebut tidaklah berlebihan bila ketiga wilayah tersebut perlu ditetapkan sebagai Kawasan Pengembangan Kerbau Rawa Pampangan dengan julukan Segitiga Emas Hitam untuk lumbung ternak kerbau Sumsel ke depan.
Prospek Kerbau Rawa
Seiring dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), daging dan susu menjadi menu yang sangat penting mengingat nilaiu gizi yang terkandiung di dalam daging dan susu sangat tinggi. Kebutuhan daging dan susu secara nasional masih defisit sehingga pemerintah masih memenihinya melalui impor. Sumsel memiliki ternak kerbau dwifungsi yakni sebagai penghasil susu dan daging. Susu yang dihasilkan kerbau pampangan sering digunakan sebagai bahan baku gulo puan, sagon puan, juadah puan, srikaya puan dan minyak kerbau. Fermentasi susu kerbau ini termasuk makanan favorit pada masa kesultanan. Pengolahan susu kerbau dapat diolah menjadi makanan mewah mozzarella yang dapat memenuhi kebutuhan menu program MBG.
Daging kerbau menjadi bahan baku paling bagus untuk rendang. Masyarakat Sumbar menggunakan daging kerbau menjadi pilihan utama dalam membuat rendang. Saat ini restoran banyak menggunakan daging kerbau impor untuk bahan baku rendang. Selain kebutuhan konsumsi harian, perlu galakkan penggunakan hewan kerbau menjadi pilihan dalam memilih hewan kurban. Maka kebutuahn hewan kurban yang mencapai 30 ribu ekor pertahun dapat dipenuhi melalui penyediaan dari kerbau produksi dari Sumsel.
Tantangan
Saat ini kerbau terancam punah karena berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut di antaranya menyempitnya luas lahan penggembalaan karena konversi lahan menjadi lahan perkebunan, kebakaran hutan yang menurunnya sumber pakan alami berupa rumput hijau yang akan berakibat usia produktivitas indukan kerbau pampangan semakin lambat. Kondisi tersebut menyebabkan kelestarian kerbau mengalami hambatan. Hal ini diperparah belum terkendalinya penyakit hewan menular strategis terutama Penyakit Septisaemia Epizootika (Ngorok), Penyakit Mulut dan Kuku dan parasit darah. Penyakit ini yang harus dilakukan pencegahan sehingga 3 tahun terakhir menyerang hewan kerbau yang menyebabkan kematian tinggi yang ikut menjadi faktor utama penurunan populasi ternak kerbau. Program vaksinasi PMK, SE akan dapat menjadi solusi atas permasalahan penyakit pada kerbau.
Pola Pengembangan
Pengembangan kerbau haarus mengacu pada keunggulan komparatif (Kawasan Padang Pengembalaan) menuju keunggulan kompetitif (Biaya Produksi Rendah). Kedua keunggulan ini dapat menjadikan 3 wilayah kabupaten tersebut menjadi lumbung kerbau Sumsel. Dengan luas lahan rawa yang dimiliki dan ditetapkan sebagai Kawasan pengembangan kerbau rawa yang dikelola maka kerbau dapat digembalakan dengan pola rotasi. Pengembalaan akan menurunkan biaya pakan dalam kompenen biaya produksi seekor kerbau sekitar 70 persen. Pola pengembalaan akan menjadi keunggulan kompetitif kerbau rawa Pampangan untuk bersaing dengan daging impor yang masuk ke Sumsel.
Pola pengembangan kerbau dapat menjadikan masyarakat umum sebagai investor denga. Pola kemitraan yang dapat dikelola oleh Pemerintah Desa di sekitar Kawasan Pengembalaan. Setiap orang dapat menitipkan kerbau dengan pola bagi hasil yang dikelola oleh pemerintah desa atau kelompok. Pemerintah Kabupaten dan Provinsi menjadi fasilitator dalam pembinaan dan kesehatan hewan. Melibatkan Lembaga asuransi ternak sebagai jaminan keamanan dan jaminan kehilangan maupun kematian. Pemerintah juga wajib membangun Pusat Kesehatan Hewan di lokasi kawasan pengembalaan kerbau di setiap kabupaten atau disetiap kecamatan yang masuk dalam Kawasan pengembalaan.
Dengan melestarikan dan mengembangkan kerbau rawa pampang sebagai sumber susu dan daging maka kita meningkatkan keunggulan kamparatif daerah yang dapat diandalkan. Sumsel akan swasembada daging dan susu yang berasal dari ternak kerbau khas Sumsel.
Dr. drh. Jafrizal, MM
Dokter Hewan Ahli Madya Prov. Sumsel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar